Ada cerita tentang Manisan Belimbing ...
Seminggu yang lalu adik sepupu Pak Djamal, Bu Hamidah datang dari Bangkalan, Madura. Sengaja kami undang khusus untuk mengajarkan pembantu kami bikin pepes. Pepes bikinan Bu Hamidah memang istimewa, “mak nyusss”. Kalau saya lebih baik beli karena merasa bukan ahlinya. Daripada disuruh bikin pepes nanti rasanya juga nggak jelas, lebih pe-de bikin sup, selada buah atau makaroni skotel.
Oleh-oleh yang dibawa Bu Hamidah “cem-macem” kata orang Madura. Selain pepes udang dan pepes tongkol, juga manisan belimbing sayur. Kecil-kecil panjang, tidak terlalu asam, manisnya pas, dan lunak.
Kebetulan kami punya pohon belimbing sayur. Pohon belimbing ini manfaatnya banyak. Selain buahnya untuk sayur asam atau bumbu dalam berbagai masakan, bunganya untuk obat batuk (direbus dengan gula batu), daunnya untuk obat hipertensi. Karena pohon ini selalu sarat berbuah, kami sering tawarkan kepada tetangga. Nah, kebetulan ada Bu Hamidah yang bisa mengajarkan bikin manisan belimbing.
Resepnya: Buah belimbing diguling-gulingkan pada alat pemarut kelapa, sampai keluar airnya. Rendam 1 jam dalam air garam, kemudian 1 jam dalam air kapur. Buang bijinya.
Setelah dicuci, direbus dengan air 3 gelas dan 1 kg gula pasir, sampai kental.
Malam hari diangkat buahnya, tiriskan. Esok harinya air gula dipanaskan sampai kental, lalu masukkan buah belimbing. Malam hari buah ditiriskan.
Lakukan proses tersebut sampai air gula habis. Kemudian manisan dijemur beberapa hari sampai kering.
Setiap kali saya melewati tampah yang berisi manisan belimbing yang sedang dijemur, ingin sekali mencicipi. Tapi saya tahan, takut nanti bolak balik “ngutil” lama-lama kan habis. Udara sedang cerah, sehingga tidak perlu mengamankan jemuran dari hujan. Walaupun tidak berwarna hijau lagi tetapi menjadi kecoklatan, tampilannya berkilat-kilat menggiurkan.
Nah, kemarin di kompleks rumah kami ada penyemprotan, karena ada warga yang sakit demam berdarah. Sehari sebelumnya diumumkan supaya makanan dan minuman diamankan supaya tidak kena semprotan. Pagi itu saya memasuk-masukkan makanan yang ada di dalam rumah. Kemudian kami ke Kebun Karinda memberikan penyuluhan kompos kepada ibu-ibu anggota Dharma Wanita Persatuan Perwakilan Jawa Timur sebanyak 30 orang. Selesai pelatihan, terlihat petugas mulai menyemprot. Karena sudah waktunya makan siang, kami makan di Cwie Mie Malang di depan kompleks Karinda. Tiba di rumah penyemprotan sudah selesai, lantai rumah segera dibersihkan dari sisa obat.
Rupanya keinginan makan manisan belimbing bikinan sendiri tidak diijinkan Allah. Tadi pagi kami main golf, seperti biasa saya nyopir Kijang Innova sendiri. Tiba di rumah, sopir saya menyebut-njebut manisan belimbing. Karena tidak jelas bicaranya, saya tanya sama istrinya yang membuat manisan, apakah waktu ada penyemprotan manisan disimpan. Dia bilang disimpan di dalam oven. Lalu kenapa? Ternyata kemarin usai penyemprotan, manisan itu dijemur di atas mobil Innova tetapi sorenya lupa tidak diambil. Malam itu kami juga tidak keluar rumah, jadi manisan sampai pagi bertengger di atas Innova. Waktu kami membawanya ke lapangan golf, yang menyiapkan tas golf dan membuka pintu pagar sopir yang lain, jadi tidak tahu-menahu ada tampah berisi manisan belimbing masih bertengger di atas mobil. Entah jatuh di mana …..